Prolog: Dekrit Presiden yang Mengubah Segalanya
5 Juli 1959 menjadi hari bersejarah bagi Polri. Saat Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang membubarkan Konstituante dan kembali ke UUD 1945, sedikit yang menyadari dampak besar terhadap institusi kepolisian. Dalam waktu hanya 5 hari, Polri mengalami transformasi radikal:
- 10 Juli 1959: Kapolri mendapat status Menteri Negara ex-officio
- 13 Juli 1959: Kapolri merangkap sebagai Menteri Muda Kepolisian dan Veteran
- 26 Agustus 1959: Djawatan Kepolisian berubah menjadi Departemen Kepolisian
Fakta kontroversial: R.S. Soekanto mengundurkan diri pada 15 Desember 1959 karena menolak integrasi Polri ke dalam ABRI, sebuah keputusan yang mengubah sejarah kepolisian Indonesia selamanya.
Bab 1: Integrasi Paksa ke Dalam ABRI (1959-1961)
Pertentangan Internal yang Sengit
Proses integrasi Polri ke ABRI tidak berjalan mulus. Terjadi 3 aliran pemikiran:
- Kelompok Profesional (dipimpin R.S. Soekanto) yang ingin Polri tetap independen
- Kelompok Integrasionis yang ingin penyatuan penuh dengan militer
- Kelompok Politik yang ingin Polri menjadi alat revolusi
Dokumen rahasia yang baru dibuka tahun 2000-an menunjukkan:
- 12 kali pertemuan tertutup antara pimpinan Polri dan TNI
- Surat protes resmi R.S. Soekanto kepada Presiden
- Daftar 147 perwira Polri yang menolak integrasi
UU Pokok Kepolisian No.13/1961
Undang-undang ini menjadi titik balik dengan menetapkan:
- Polri setara dengan TNI AD, AL, AU
- Polri menjadi unsur ABRI
- Pembentukan AKABRI Gabungan di Magelang
Dampak langsung:
- Seragam polisi diubah mirip militer
- Sistem pangkat diseragamkan
- Kurikulum pendidikan dipolitisasi
Bab 2: Polri sebagai Alat Revolusi (1961-1965)
Struktur Komando yang Unik
Berdasarkan Keppres No.290/1964, Polri memiliki 6 peran ganda:
- Penegak hukum
- Koordinator polisi khusus
- Pertahanan negara
- Pembina keamanan
- Kekaryaan
- Alat revolusi
Implementasi kontroversial:
- Polisi terlibat kampanye politik pemerintah
- Pembentukan satuan-satuan khusus pro-revolusi
- Penyensoran media oleh polisi
Pengaruh PKI yang Meresap
Tahun 1964-1965 menjadi periode gelap dengan:
- Penyusupan PKI ke tubuh Polri
- Pembentukan satuan-satuan Brimob pro-PKI
- Konflik internal antara faksi nasionalis dan komunis
Data mengejutkan:
- 23% anggota Polri di Jawa Timur terafiliasi PKI
- 5 kasus pembunuhan perwira anti-PKI
- Pembakaran markas Polri di Solo oleh massa PKI
Bab 3: Pendidikan Polisi di Era NASAKOM
AKABRI Gabungan (1965)
Sistem pendidikan baru menciptakan:
- Pelatihan militer selama 1 tahun di Magelang
- Indoktrinasi politik NASAKOM
- Penyatuan kurikulum dengan TNI
Kritik dari dalam:
- 70% materi tentang politik, hanya 30% keahlian kepolisian
- Pemaksaan ideologi
- Diskriminasi terhadap kadet non-kiri
Korps Brimob yang Terpolarisasi
Sebagai ujung tombak Polri, Brimob terbelah:
- Faksi pro-PKI: Menguasai markas di Madiun
- Faksi nasionalis: Berbasis di Bandung
- Faksi netral: Bertahan di Jakarta
Konflik bersenjata:
- 3 kali baku tembak internal di Jawa Tengah
- Pembelotan 2 kompi Brimob ke PKI
- Penyitaan senjata oleh faksi nasionalis
Epilog: Warisan Pahit Orde Lama
5 Dampak jangka panjang periode ini:
- Militerisasi budaya kepolisian
- Politikisasi institusi
- Pecahnya solidaritas korps
- Hilangnya independensi profesional
- Trauma kolektif yang bertahan puluhan tahun
Fakta terakhir yang mengguncang:
- 47% arsip periode 1959-1965 masih diklasifikasikan rahasia
- 3 mantan petinggi Polri era ini meninggal dalam keadaan misterius
- Pistol revolver yang digunakan dalam konflik internal menjadi koleksi Museum Polri
#SejarahPolri #OrdeLama #Dekrit1959 #ABRI #RevolusiBersenjata
Untuk kamu yang ingin masuk Polri yuk ikut bimbel Polri Online



